Moderat Reviews

Gerakan Fundamentalisme di Kalangan Mahasiswa Islam

Posted on: February 16, 2008

 

Representasi gerakan fundamentalisme di kalangan mahasiswa tampak pada organisasi di kalangan kampus seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). KAMMI adalah metamorfosis dari gerakan Tarbiyah. Umumnya gerakan-gerakan tersebut memiliki daya resonansi dan popularitas yang cukup mengagumkan di kalangan kampus yang memiliki latar belakang keagamaan minim seperti negeri dan umum. Selain KAMMI, masih ada lagi gerakan mahasiswa fundamentalis lainnya, diantaranya yang dinahkodai gerakan Hizbut At-Tahrir yang bernama Gerakan Mahasiswa Pembebasan (Gema Pembebasan), gerakan Salafy maupun gerakan-gerakan lainnya.

Berbeda dari tampilan beberapa organisasi kemahasiswaan Islam lain yang sudah ada sebelumnya seperti PMII, HMI, gerakan-gerakan ini seolah-olah membawa spirit “Islam baru” yang mencerminkan “totalitas” dan “kesungguhan”, baik dalam tujuan perjuangannya maupun dari segi perilaku politik sosialnya. Mereka lebih mempresentasikan dirinya sebagai potret generasi muda Islam yang ideal, sebagai yang sholeh, menjunjung tinggi moralitas Islam dalam berbagai aspek kehidupan (kaffah).

KAMMI boleh jadi sebagai gerakan terbesar di Indonesia, meskipun akhir akhir ini ada yang mengatakan GEMA Pembebasan juga mulai menampakkan aksinya. Umumnya gerakan induk KAMMI, Gerakan Tarbiyah, bergerak melalui jaringan DKM kampus dan remaja-remaja masjid. Pada mulanya gerakan ini cenderung moderat hanya bergerak untuk meramaikan masjid dan membina para remaja, tapi pada saat bersamaan gerakan ini juga membina secara khusus sejumlah aktivis potensial yang direkrut dari masjid-masjid melalui kelompok-kelompok kecil yang dinamakan usrah yang terdiri dari 8-12 anggota dan dipimpin oleh seorang mursyid.

Pada akhir tahun 80 an dan awal 90 an terjadi perubahan besar pada gerakan ini dan pertentangan antara kelompok yang menginginkan dakwah kultural dan tetap pada misi pembinaan remaja termasuk remaja bermasalah dengan kelompok yang menginginkan pola pencetakan kader-kader militan (dan radikal), pada akhirnya kelompok kedualah yang menang. Kemenangan ini juga ditandai dengan perebutan kendali di masjid Salman ITB pada tahun 1994. Kelompok ini di era reformasi bermetamorfosis menjadi partai politik dengan berdirinya Partai Keadilan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: